Kamis, 05 Maret 2015

Nusakambangan dan Standar Ganda Hukuman Mati


Liputan6.com, Jakarta - Teng...teng...Lonceng Gereja St Ignatius, Richmond, Melbourne, Australia, berdentang 25 kali pagi itu, Jumat 2 Desember 2005. Masing-masing mewakili 1 tahun usia pemuda bernama Nguyen Tuong Van.
Suara genta bertalu-talu memecah suasana hening yang tak nyaman. Orang-orang yang berkumpul di halaman rumah ibadah itu paham benar, saat yang tidak mereka nantikan akhirnya justru tiba. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali berdoa, menangis, mengeluarkan segala himpitan emosi yang menyeruak dari dalam dada. Termasuk amarah.
Sebelumnya, informasi yang bocor dari balik tebalnya tembok Changi Prison, Singapura, sampai ke telinga wartawan yang telah menanti semalam suntuk. Kabar itu menyebut bahwa pada pukul 06.07 waktu setempat, kala mentari belum lagi menampakkan diri, Nguyen Tuong Van telah dieksekusi mati. Dengan cara digantung.
Nguyen, warga Australia keturunan Vietnam tersebut dieksekusi mati setelah dinyatakan bersalah membawa 396 gram heroin di Bandara Changi pada Desember 2002, saat transit dalam perjalanan dari Kamboja ke Australia.
Barang haram itu diikat ke tubuhnya dan disembuyikan dalam tas jinjing. Sungguh tindakan nekat, padahal di Negeri Singa, kedapatan membawa 15 gram heroin saja bisa membawa seseorang ke tiang gantungan.



Singapura mengaku punya alasan menghukum mati Nguyen: melindungi orang-orang yang hidupnya bisa saja hancur oleh heroin yang diselundupkan terpidana.  “Jumlah heroin itu cukup untuk 26.000 dosis," tambah pihak Singapura seperti Liputan6.com kutip dari BBC.  
Segala upaya hukum telah ditempuh pihak Australia, termasuk mengajukan grasi kepada Presiden Singapura saat itu, SR Nathan. Semua sia-sia.
Kasus Nguyen -- yang ibunya, Kim Nguyen lari dari Vietnam sebagai manusia perahu pada tahun 1980-an -- menimbulkan simpati meluas warga Australia. Media Negeri Kanguru mengangkat kisah hidupnya, termasuk klaim bahwa di balik aksi nekatnya, pemuda yang lahir di Thailand itu berniat  membantu sang kakak yang terjerat utang judi.
Perdana Menteri Australia kala itu, John Howard, bereaksi keras. Ia mengatakan, eksekusi akan  memperburuk hubungan Australia dan Singapura. 
“Saya telah menyampaikan pada PM Singapura bahwa saya yakin bahwa ini akan berakibat pada hubungan antarwarga negara dan antarmasyarakat,” kata dia.

PM Howard juga menyayangkan penolakan Singapura atas permintaan Kim Nguyen memeluk putranya itu untuk kali terakhirnya. Ibu dan anak itu hanya dibolehkan saling berpegangan tangan.
Namun Howard menolak seruan melakukan boikot perdagangan dan militer terhadap Singapura -- salah satu sekutu terkuat Australia di Asia. Dia menambahkan eksekusi harus menjadi peringatan bagi pemuda Australia lainnya. “Jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kalian bisa lolos dari risiko membawa obat terlarang ke mana pun di Asia tanpa menanggung konsekuensi berat.”
Apapun, sejumlah insiden nyata terjadi. Di sejumlah bandara, petugas menolak memproses bagasi dari Singapore Airlines, maskapai Singapura. 
Pada 23 Februari 2006, Pemerintah Australia menolak tawaran Singapore Airlines untuk menerbangkan pesawatnya rute Sydney dan AS secara permanen. Meski pihak Canberra membantah itu ada kaitan dengan eksekusi Nguyen.
Nguyen adalah WN Australia pertama yang dieksekusi di luar negeri dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.   
Sebelumnya, 3 WN Australia dieksekusi gantung di Malaysia. Michael McAuliffe pada Juni 1993; Kevin Barlow dan Brian Chambers pada 7 Juli 1986. Semua dalam kasus penyelundupan heroin.
Andrew Chan dan Myuran Sukumaran bukan warga Australia pertama yang dieksekusi di negeri orang...
Sleanjutnya: Nusakambangan, Bom Bali, Bali Nine...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar